- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Sofie menolak Rien, teman sekantornya untuk diperkenalkan dengan salah seorang teman laki-lakinya, saat dia diberikan pesta kejutan di kantornya pada ulang tahunnya yang ke-28. Rien mengatakan kalau temannya tersebut seorang laki-laki yang cukup mapan.
“Kenapa? Takut hubunganmu gagal lagi?”
Sofie tidak menjawab, hanya tersenyum.
Sore hari, sepulang kerja, Sofie mendapat kejutan kecil di rumahnya di daerah Pondok Gede. sebuah kejutan kecil pun diterimanya saat dia membuka pintu. “Selamat ulang tahun!” teriak dari Ayah dan Ibu saat Sofie membuka pintu. Sebuah tumpeng nasi kuning kecil telah tersaji di meja. Kemudian muncul seorang gadis kecil sambil membawa setangkai bunga sepatu yang langsung diberikan kepada Sofie. “Selamat ulang tahun Mama,“ kata gadis kecil itu. Sofie meletakkan barang bawaannya di atas meja dan langsung memeluknya.
“Terima kasih, Cinta,” kata Sofie sambil mencium pipi gadis kecil tersebut. “Mama bawakan kue untuk Cinta.” Sofie melepaskan pelukannya dan membuka kotak berisi black forest yang dibawanya. Cinta bertepuk tangan dan nampak senang.
“Eeeeeh, sebelum makan kuenya, biar mama tiup lilin dan potong tumpengnya lebih dulu ya,” kata Ayah Sofie. Gadis kecil itu pun mengangguk. Dan pesta kecil di rumah Sofie pun berlangsung.
Cinta, bukanlah gadis kecil biasa, dia adalah penderita down syndrome. Pada umurnya yang delapan tahun, Cinta nampak seperti anak seusia lima atau enam tahun. Gadis kecil itu begitu disayangi oleh Sofie dan keluarganya. Mereka menyekolahkan Sofie di sebuah SLB. Karena begitu sayangnya Sofie pada cinta membuat hubungannya dengan seorang laki-laki gagal untuk kedua kalinya untuk menuju tahapan yang lebih serius. Sofie lebih memilih Cinta daripada hubungannya berlanjut tapi harus mengabaikannya.
Cinta adalah keponakan Sofie. Kedua orangtua Cinta, yaitu kakak Sofie dan suaminya meninggal dunia dalam sebah kecelakaan mobil mobil di jalan tol, lima tahun yang lalu. Cinta yang waktu itu baru berumur satu tahun selamat dalam pelukan ibunya. Sofie memutuskan untuk merawat Cinta karena selain dia begitu menyayanginya. tidak ada lagi yang merawatnya. Kedua orangtua suami kakaknya sudah meninggal dunia, dua kakaknya tidak memungkinkan, karena kakak yang tertuanya tinggal di Kalimantan sedangkan kakak keduanya sudah cukup direpotkan oleh kelima anaknya yang masih kecil-kecil.
Sejak kecil Cinta memanggil Sofie dengan Mama. Karena panggilan inilah Sofie pernah dinasihati oleh seorang tetangga untuk melarang Cinta memanggilnya dengan sebutan Mama.
“Dik Sofie, apa tidak sebaiknya Cinta memanggilmu dengan panggilan tante?”
“Memangnya kenapa Mbak?”
“Dik Sofie kan masih sendiri, kalau Cinta memanggilmu dengan Mama, dikira Cinta itu anakmu. Nanti kalau ada laki-laki yang mau melamar Dik Sofie, tidak jadi lho.” Sofie hanya tertawa mendengarnya.
Dan itulah yang terjadi pada Sofie dua kali. Pertama dengan Aldi, teman kuliahnya. Hubungan mereka serius, sampai akhirnya Aldi meminta Sofie untuk tinggal bersamanya di Medan dan meninggalkan Cinta, karena tidak mungkin membawa Cinta bersama mereka. Hal ini tentu saja ditolak oleh Sofie, dia berjanji di depan jenazah kakaknya kalau dia akan selalu berada di samping Cinta, merawat, menyayang seperti anaknya sendiri. Aldi membuat pilihan, untuk bersamanya merajut masa depan atau tetap berada di samping Cinta. Sofie memilih yang kedua.
Setahun kemudian Sofie merajut hubungan dengan Restu, seorang jurnalis. Restu tidak mempermasalahkan keberadaan Cinta di samping Sofie, bahkan dia akan menyayangi dan mencintai Cinta seperti Sofie menyayangi dan mencintainya. Namun kemudian Restu datang dan mengatakan kalau kedua orangtuanya, terutama ibunya tidak bisa menerima keberadaan Cinta. Restu tidak berani membantah atau melawan kedua orangtuanya dengan memaksakan kehendaknya, karena dia adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarganya. Sofie pun kembali mengalami kegagalan dalam hubungannya untuk menuju tahap perkawinan.
Melihat Sofie yang dua kali gagal menjalin hubungan membuat kedua orangtuanya merasa kasihan. Mereka meminta Sofie untuk tidak memikirkan Cinta, karena merekalah yang akan merawat dan menjaganya. Namun Sofie menolak, sampai kapan pun dia akan tetap di samping Cinta. “Kamu juga harus memikirkan kehidupanmu dan masa depanmu. Umurmu semakin bertambah lho Sof. Ibu dan Bapak juga ingin punya cucu lagi.”
“Kalau sudah jodoh, pasti akan bertemu Bu,” jawab Sofie.
Jumat sore, ketika pulang dari kantor, Sofie tidak melihat Cinta menyambutnya seperti biasanya.
“Cinta mana Bu?”
“Bersama Dewa.”
“Dewa? Dewa siapa Bu?”
“Masa kamu lupa. Itu lho Dewa anaknya Bu Citro. Dia baru datang siang tadi dari Jogja. Ke sini ingin bertemu denganmu. Ibu bilang kamu pulangnya sore, kemudian dia melihat Cinta. Mereka bermain sebentar, waktu Dewa pulang, Cinta minta ikut.”
“Dewa si anak badung itu!” gumam Sofie lalu pamit untuk menyusul Cinta karena hari menjelang maghrib.
Baru saja keluar dari pintu, Sofie melihat Cinta sedang digendong di pundak seorang laki-laki. Sofie hampir tidak mengenal dengan laki-laki tersebut hingga sampai dia tersenyum dan memanggil namanya.
“Lihat! Mama Sofie sudah pulang, Cinta.” Kata laki-laki tersebut sambil menurunkan cinta dari gendongannya. Cinta berlari ke arah Sofie sambil menunjukkan sebuah boneka panda dan sebuah maket rumah.
“Dewa?!”
“Apa kabar Mbak? Mbak Sofie tidak akan memarahiku karena membawa Cinta pergi kan?” Sofie tertawa kecil. “Dan tidak akan mengusirku kan?”
“Tentu saja aku akan mengusirmu. Ini sudah maghrib!” Sofie tersenyum.
Dewa tertawa, sebelum pergi dia mengatakan kalau besok dia akan datang kembali. Sofie tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, sampai terdengar azan maghrib dan Cinta menarik tangannya untuk masuk.
Jam delapan malam, Sofie memandangi Cinta yang tertidur pulas sambil memeluk boneka panda pemberian Dewa. Cinta bercerita kalau dia senang bermain dengan Om Dewa.
Dewa, anak satu-satunya Bapak dan Ibu Citro, tetangga namun beda RT. Sofie mengenal Dewa karena dia sering membuat ulah sejak kecil. Waktu SD pernah merusak tanaman di halaman depan karena mengejar-ngejar ayamnya, melempar buah jambu dengan batu yang akhirnya mengenai kaca jendela hingga pecah, memanjat pohon jambu tersebut hingga sampai tinggi hingga membuat Sofie, ayah dan ibunya teriak-teriak memintanya turun. Bermain bola bersama teman-temannya di depan rumah Sofie yang kemudian menendang bola dengan keras hingga bolanya masuk ke halaman rumah dan memecahkan sebuah pot bunga. Melompat pagar rumah Sofie untuk mengambil anak kucing sampai memasang petasan di depan rumahnya waktu SMP hingga Sofie dan kakaknya marah-marah karena kaget dan menjewer kuping Dewa. Dan yang sempat membuat keluaraganya geger, waktu SMA Dewa pernah membawa Cinta ke rumahnya tanpa permisi, waktu itu Cinta berumur dua tahun. Kakak Sofie sempat menangis dibuatnya karena tidak bisa menemukan Cinta. Sampai kemudian Sofie melihat Cinta sedang bermain kucing di halaman rumah Dewa. Pak dan Bu Citro sangat senang kepada anak-anak, mungkin karena mereka hanya punya satu anak, yaitu Dewa. Dewa pun sangat menyukai anak-anak.
Kebadungan-kebadungan Dewa berlanjut sampai SMA, hingga akhirnya Dewa lulus SMA dan kuliah di Surabaya. Bu Citro dan Pak Citro sendiri setelah pensiun dari pekerjaannya di Dinas Koperasi memutuskan untuk pindah ke Jogja, ke tanah leluhur mereka berdua. Rumahnya di Pondok Gede ditempati paman dan bibi Dewa, adik Bu Citro. Dan sudah enam tahun mereka pergi, Sofie pun tidak pernah lagi bertemu dengan Dewa, hingga sore tadi.
Sofie tersenyum mengingat kebadungan-kebadungan Dewa waktu kecil, namun kini anak badung itu telah berubah menjadi laki-laki dewasa yang menawan hingga Sofie sempat kehilangan kata-katanya ketika berhadapan dengannya.
Sabtu siang, cuaca agak sedikit berawan. Setelah selesai memasak, Sofie dan Ibunya tidak menemukan Cinta di depan rumah saat akan disuruh makan siang, ayahnya saat itu sedang megikuti pertemuan warga di kelurahan. Sofie sempat panik, tetapi kemudian dia dapat menebak dengan siapa Cinta pergi. Dia langsung ke rumah paman dan bibi Dewa, namun Dewa sedang keluar. Sofie kemudian mencarinya ke tempat anak-anak biasanya bermain. Dan akhirnya menemukan Cinta yang sedang mengejar-ngejar capung di lapangan sepak bola di samping perumahannya. Dewa nampak duduk di bawah pohon mangga sambil memperhatikan Cinta yang sedang berlari-larian.
“Apa kamu tidak bisa meminta izin terlebih dahulu untuk membawa Cinta pergi? Kamu bisa didakwa menculik anak orang! Kebiasaanmu tidak berubah dari dulu,” kata Sofie ketika sudah berada di belakang Dewa. Dewa menoleh dan tertawa. Dia mengatakan memang sengaja dilakukannya agar Sofie mencarinya. Sofie menyeringai, kemudian duduk di samping Dewa. Mereka saling menanyakan kabar masing-masing yang belum sempat mereka lakukan waktu kemarin sore. Dewa sudah menjadi arsitek dan membuka jasa konsultan sendiri. Saat ini dia sedang mendapat pekerjaan di Jakarta.
Dewa mengatakan kalau dua tahun yang lalu pernah datang, namun waktu Sofie dan keluarganya sedang pergi ke Bandung. Ayah dan ibunya suka suka menanyakan kabar Cinta setelah mendengar kecelakaan yang dialami oleh kedua orangtuanya. Mereka sempat menangis ketika mengetahui kalau Cinta telah menjadi yatim piatu.
“Tapi Cinta pasti sangat senang dan bahagia mempunyai Mama sepertimu.”
Sofie tersenyum. “Aku berusaha melakukan yang terbaik untuknya.”
Dewa mengatakan kalau sebaiknya Cinta sering-sering diajak ke alam terbuka dan berinteraksi dengan alam sekitarnya karena bagus untuk perkembangannya dan menurutnya Cinta adalah anak yang cukup cerdas.
“Mbak Sofie belum menikah kan?!” kata Dewa tiba-tiba. “Dan Mbak belum punya pacar?”
Sofie tertawa kecil. “Memangnya kenapa? Apa kamu akan mencarikan jodoh untukku?”
Dewa menoleh dan memandang Sofie dengan tajam, wajahnya tiba-tiba berubah serius. Hal ini membuat Sofie menjadi salah tingkah, jantungnya tiba-tiba berdenyut lebih cepat dari biasanya.
“Aku suka sama Mbak Sofie! Sejak dulu.”
“A-apa!” Sofie terkejut. Dewa kemudian mengatakan kalau dia sudah menyukai Sofie sejak SMA. Ketika pertama kali merasakan benar-benar kagum dan cinta kepada perempuan, Sofie-lah perempuan pertama yang telah mengisi hatinya. Itulah makanya dia sering membuat ulah di rumahnya, hal ini agar bisa bertemu dengannya, untuk mengatakannya dia malu, karena Sofie lebih tua darinya.
“Aku tidak bisa melupakan Mbak Sofie juga Cinta. Karena Cinta-lah yang membuat aku menemukan sosok perempuan sempurna dalam hidupku.” Sofie memandang Dewa, matanya berkaca-kaca. Ruangan dalam dadanya yang sempat kosong dan kering tiba-tiba terisi dan terasa sejuk. “Yah, aku tahu Mbak Sofie lebih tua lima tahun dari aku. Sejak dulu aku tidak pernah memikirkan soal umur, yang aku tahu, Mbak Sofie-lah, satu-satunya perempuan yang membuat hidupku berarti, juga Cinta. Setiap aku kehilangan semangat aku selalu teringat Cinta, dengan keadaannya dan kehilangan kedua orang tuanya, dia tetap ceria.” Sofie menitikkan air mata mendengar kata-kata Dewa. “Mbak, bolehkah aku menemani hidup Mba untuk sekarang dan yang akan datang?” Sofie terdiam. “Mbak tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan menunggunya sampai kapan pun!”
Sofie tidak tahu harus berkata apa, kesejukan benar-benar sedang menyelimuti hatinya. Dia terdiam ketika dengan hangat Dewa menggenggam tangannya. Dewa tersenyum ketika tahu Sofie tidak menolak genggamannya.
“Hari sudah terlalu siang. Cinta harus makan. Kalau mau, kamu aku undang untuk makan siang bersama kami.” Dewa mengangguk.
Sofi memanggil Cinta. Gadis kecil langsung berlari ke arahnya. Sambil berteriak “Mama”. Dewa menangkapnya dan langsung menggendongnya di pundaknya. “Mari kita makan siang Cinta.” Cinta tertawa senang. Sofie memperhatikannya dengan tersenyum. Senyum kebahagiaan. Mereka pun pergi bersama Bandar Bola.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya


Komentar
Posting Komentar